Rahasia Malam di Rumah Sendiri

mama
0



Aku Andi, 21 tahun. Kerja di kantor asuransi kecil di pinggir kota, pulang jam setengah tujuh malam kalau nggak lembur. Gajinya pas-pasan, tapi cukup buat bantu cicilan rumah sama belanja bulanan. Hidupku biasa sekali, bahkan membosankan kalau dipikir-pikir. Bangun pagi, naik angkot, kerja, pulang, main HP, tidur. Repeat.

Di rumah ada Mama sama Vina.

Mama, 43 tahun, orangnya pendiam banget. Kalau orang luar lihat, mungkin mikir Mama itu tipe istri yang penurut dan lembut. Tapi sebenarnya beliau cuma… nggak tahu harus ngomong apa ke orang. Dulu waktu Papa masih ada, Mama lumayan banyak omong. Setelah Papa pergi (kecelakaan motor, delapan tahun lalu), Mama kayak kehilangan separuh kemampuan bicaranya. Sekarang beliau lebih banyak diam, tersenyum tipis kalau ditanya, dan jawabannya selalu pendek. Paling panjang mungkin cuma: “Sudah makan belum, Di?” atau “Vina, jangan main HP terus.”

Vina, adikku yang 18 tahun, beda 180 derajat sama Mama. Cerewet, suka bercanda kasar, suka bikin lelucon yang kadang bikin aku pengen jitak kepalanya. Dia baru lulus SMA, sekarang lagi magang di salon kecantikan milik tante sebelah komplek sambil nunggu pengumuman kuliah jalur mandiri. Vina tipe yang kalau lagi di rumah, suka nyanyi-nyanyi keras pakai speaker Bluetooth, bikin Mama kadang cuma geleng-geleng kepala sambil senyum kecil.

Rumah kami sederhana. Tipe 36, dua kamar, ruang tamu yang langsung nyambung ke ruang makan, dapur sempit, dan kamar mandi yang pintunya suka ngadat kalau hujan. Di belakang ada ruang jemur kecil plus gudang sempit yang penuh kardus-kardus bekas sama barang peninggalan Papa.

Hari-hari kami berjalan biasa saja. Sampai malam itu.

Malam Rabu, tanggal 15 Januari. Hujan deras dari sore, listrik sempat mati sejam. Aku pulang basah kuyup, langsung mandi, lalu duduk di ruang makan sambil makan mie rebus buatan Mama. Vina lagi di kamar, katanya mau video call sama temen-temennya.

Mama seperti biasa, cuci piring sambil dengar radio kecil yang suaranya pelan sekali. Aku perhatiin tangan Mama yang gerak lambat mencuci piring. Kulitnya agak kasar karena sering kena sabun cuci dan air dingin. Tapi entah kenapa malam itu aku baru sadar—tangan Mama masih halus di bagian punggungnya. Putihnya masih kelihatan, beda sama telapak yang sudah kecokelatan.

“Ma, dingin nggak cuci piring jam segini?” tanyaku iseng.

Mama cuma menggeleng pelan, nggak menoleh. “Biasa aja.”

Jawaban standar.

Aku diam lagi, lanjut makan. Tapi entah kenapa malam itu suasana rumah terasa… beda. Lebih sunyi dari biasanya, meskipun hujan deras di luar. Radio Mama juga cuma nyanyi lagu-lagu lama yang pelan.

Setelah selesai makan, aku berdiri mau ke kamar. Pas lewat di belakang Mama, aku nggak sengaja (atau sengaja?) menyenggol pundaknya sedikit. Badan Mama menegang seketika, tapi cuma sebentar. Dia nggak bilang apa-apa, cuma terus cuci piring.

Aku masuk kamar, main HP sebentar, lalu matikan lampu. Biasanya aku langsung tidur jam 10–11 malam. Tapi malam itu aku nggak bisa tidur. Entah kenapa jantungku berdegup agak kencang, padahal nggak ada yang aneh.

Sekitar jam 00:15, aku dengar suara langkah pelan di luar kamar. Bukan langkah Vina—Vina jalannya cepat dan suka nyanyi kecil. Ini langkah yang hati-hati, hampir nggak bersuara. Langkah orang yang nggak mau diketahui sedang jalan.

Aku bangun dari kasur, membuka pintu kamar pelan-pelan.

Lorong kecil menuju kamar Mama gelap. Hanya ada cahaya samar dari lampu kecil di dapur yang Mama selalu nyalakan semalaman.

Aku lihat pintu kamar Mama setengah terbuka. Dan dari celah itu, aku melihat bayangan Mama berdiri di dekat lemari baju. Beliau cuma pakai daster tipis warna biru muda yang sudah agak lusuh. Rambutnya yang biasanya diikat cepol, malam itu tergerai panjang sampai pinggang.

Mama nggak gerak. Cuma berdiri menghadap lemari, tangan kanannya memegang sesuatu—aku nggak jelas lihat apa.

Aku mundur pelan, menutup pintu kamarku tanpa suara, lalu kembali ke kasur. Jantungku berdegup kencang sekali. Bukan karena takut. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang aku sendiri nggak berani mengucapkannya dalam hati.

Malam itu aku nggak tidur sampai subuh.

Besok paginya, semuanya normal kembali. Mama bangun pagi seperti biasa, membuat nasi goreng sederhana. Vina ngomel karena kehabisan kuota. Aku berangkat kerja seperti biasa.

Tapi aku tahu, sesuatu sudah berubah.

Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini aku abaikan:

  • Cara Mama menoleh cepat kalau aku masuk rumah
  • Cara dia menunduk kalau aku kebetulan berdiri terlalu dekat
  • Cara dia kadang menahan napas sebentar kalau tanganku tidak sengaja menyentuh lengannya saat ambil gelas di rak



Dan yang paling membuatku gelisah: setiap malam setelah jam 11, kalau Vina sudah tidur, aku hampir selalu mendengar langkah pelan itu lagi. Langkah Mama. Ke arah dapur. Atau ke arah ruang jemur belakang. Atau… kadang berhenti tepat di depan pintu kamarku, beberapa detik, lalu pergi lagi.

Aku nggak tahu apa yang Mama cari. Atau apa yang Mama takutkan. Atau… apa yang sebenarnya Mama inginkan.

Tapi aku mulai merasa, rahasia itu bukan cuma milik Mama seorang.

Karena aku juga mulai menunggu langkah itu setiap malam.

Sejak malam itu aku mulai lebih sering memperhatikan Mama. Bukan cuma langkah pelan di lorong, tapi juga kebiasaan kecil yang selama ini aku anggap biasa saja.

Mama sekarang sering ketiduran di sofa ruang tamu. Bukan sekali dua kali, tapi hampir setiap malam. Setelah cuci piring selesai, beliau biasanya duduk di sofa sambil nonton TV volume kecil sekali, atau cuma pegang remot tanpa benar-benar menekan tombol apa pun. Matanya terpejam pelan-pelan, kepalanya miring ke sandaran sofa, tangannya terlipat di dada seperti orang yang menahan dingin meskipun AC nggak nyala.

Aku biasanya pulang, mandi, makan malam di dapur, lalu lewat ruang tamu menuju kamar. Kalau lihat Mama sudah tidur di sofa, aku cuma diam-diam mematikan TV, ambil selimut tipis dari kamar Vina, lalu selimuti badannya pelan-pelan supaya nggak kedinginan. Setiap kali selimut menyentuh kulit lengannya, badan Mama sedikit bergetar, tapi mata beliau tetap terpejam. Aku nggak tahu apakah beliau pura-pura tidur atau memang sudah benar-benar tertidur. Yang jelas, setiap kali aku lakukan itu, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

Malam ini, Jumat, 22 Januari. Hujan lagi deras. Vina sudah tidur jam 10 malam karena capek magang seharian. Aku pulang agak larut karena lembur hitung laporan akhir bulan.

Pas masuk rumah, lampu ruang tamu masih nyala redup. Mama ada di sofa, posisi duduk menyamping, kepala bersandar ke lengan sofa, kaki terlipat di bawah badan. Daster biru mudanya naik sedikit sampai paha, memperlihatkan kulit betis yang masih putih meskipun sudah 43 tahun. Selimut yang aku taruh kemarin malam sudah jatuh ke lantai.

Aku berdiri di ambang pintu beberapa detik, cuma memandang. Mama tampak kecil sekali di sofa itu. Sendirian. Di rumah ada aku dan Vina, tapi malam demi malam beliau memilih tidur di sini, bukan di kamarnya sendiri yang sebenarnya lebih nyaman.

Aku tiba-tiba merasa… kasihan. Bukan kasihan biasa seperti anak ke ibu. Tapi kasihan yang lebih dalam, yang bercampur dengan sesuatu yang aku sendiri takut mengakuinya. Mama kesepian. Setelah Papa pergi, beliau nggak pernah cerita apa-apa soal perasaan. Nggak pernah bilang rindu, nggak pernah bilang sedih, nggak pernah bilang apa pun. Cuma diam, kerja, masak, cuci, tidur. Tapi sofa itu… sofa itu seperti pengakuan diam-diam bahwa beliau nggak mau tidur sendirian di kamar besar yang dulu dipakai bareng Papa.

Aku mendekat pelan. Ambil selimut dari lantai, lalu menyelimutinya lagi. Kali ini tanganku sengaja agak lama menyentuh bahunya. Kulitnya hangat, lembut. Mama menggeliat pelan, matanya terbuka setengah. Pandangan kami bertemu.

“Di… pulang?” suaranya serak, baru bangun.

“Iya, Ma. Sudah malam. Tidur di kamar aja, nanti masuk angin.”

Mama cuma menggeleng pelan, senyum tipis. “Di sini enak… lebih dekat sama pintu depan. Kalau ada apa-apa, aku bisa langsung bangun.”

Aku tahu itu alasan bohong. Pintu depan terkunci rapat, alarm kecilnya juga selalu aku pasang. Tapi aku nggak membantah.

Aku duduk di ujung sofa, agak jauh dari kakinya. “Ma… Mama nggak capek tidur di sini terus? Punggung pasti pegal.”

Mama diam lama. Lalu pelan-pelan beliau menarik selimut lebih tinggi sampai menutupi dada. “Kadang… rasanya kamar itu terlalu besar, Di. Terlalu sepi.”

Aku menelan ludah. Itu kalimat terpanjang yang Mama ucapkan tentang perasaannya sejak bertahun-tahun.

“Kalau Mama mau, aku bisa tidur di kamar Papa. Biar Mama nggak sendirian.”

Mama menoleh cepat ke arahku, matanya membesar sedetik. Lalu beliau menunduk lagi, main-mainkan ujung selimut. “Nggak usah… kamu kan butuh istirahat. Kerja capek.”

Tapi suaranya gemetar sedikit. Aku tahu beliau sedang menahan sesuatu.

Malam itu aku nggak langsung ke kamar. Aku duduk di situ sampai Mama tertidur lagi. Hanya memandang wajahnya yang tenang, rambut yang jatuh menutupi sebagian pipi, napas yang pelan dan teratur.

Saat aku akhirnya berdiri mau ke kamar, Mama tiba-tiba bergumam dalam tidurnya. Sangat pelan, hampir nggak terdengar.

“…jangan pergi lagi…”

Aku membeku. Itu suara Mama yang memanggil Papa? Atau…

Aku nggak berani berpikir lebih jauh.

Aku masuk kamar, tapi tidur nggak nyenyak. Sepanjang malam aku membayangkan Mama di sofa, sendirian, menunggu sesuatu yang nggak pernah datang.

Dan aku mulai bertanya dalam hati: Kalau Mama kesepian… apakah aku boleh mengisi kekosongan itu? Bahkan sedikit saja?

Pagi harinya, seperti biasa, Mama sudah bangun duluan. Membuat sarapan, tersenyum tipis saat aku keluar kamar. Seolah malam tadi nggak pernah terjadi.

Tapi aku tahu, sesuatu sudah mulai bergerak di antara kami. Pelan. Hati-hati. Dan nggak bisa dihentikan lagi.

Malam berikutnya, Sabtu, 23 Januari. Hujan sudah reda sejak sore, tapi udara masih dingin dan lembab. Vina pulang lebih awal hari ini, langsung mandi dan tidur jam 9 malam karena katanya capek banget setelah bantu potong rambut seharian di salon. Rumah kembali sunyi, hanya suara jam dinding di dapur yang berdetak pelan.

Aku pulang jam 10 lewat, seperti biasa. Pas masuk ruang tamu, Mama sudah di sofa lagi. Kali ini posisinya lebih miring, kepala hampir jatuh ke bantal kecil, tangan kanannya tergantung lemas di samping badan. Daster biru mudanya agak naik di bagian paha, tapi beliau nggak sadar. TV masih nyala, menayangkan sinetron malam yang volumenya hampir nggak kedengeran.

Aku matiin TV pelan-pelan, lalu berdiri di depan sofa beberapa detik. Mama bernapas pelan, tapi alisnya sedikit berkerut—tanda beliau capek banget. Punggungnya pasti pegal, tidur di sofa setiap malam kayak gini. Aku ingat kata-katanya kemarin: “Kamar itu terlalu besar… terlalu sepi.”

Entah dorongan dari mana, malam itu aku nggak langsung ambil selimut dan pergi. Aku duduk di sampingnya, di ujung sofa yang sempit. Badanku agak condong ke arahnya. Tangan kananku pelan-pelan naik ke pundak Mama. Aku cuma menyentuh dulu, ringan sekali, seperti mau ngetes apakah beliau bakal bangun atau menolak.

Mama menggeliat kecil, tapi mata tetap terpejam. Napasnya malah jadi lebih dalam.

Aku mulai memijat pelan. Jempolku menekan otot di sekitar leher dan bahu yang terasa keras banget—pasti karena sering angkat ember cuci baju tetangga, jongkok lama, atau cuma karena beban hidup yang nggak pernah beliau ceritain. Gerakanku lambat, hati-hati. Aku takut terlalu keras, takut beliau kaget.

Mama mengeluarkan desahan kecil. Bukan desahan sakit, tapi… nyaman. Seperti orang yang akhirnya bisa melepas ketegangan setelah lama sekali menahannya.

“Ma… pegel ya pundaknya?” bisikku pelan, hampir nggak kedengeran.

Mama nggak jawab dengan kata-kata. Cuma mengangguk tipis sekali, masih mata terpejam. Tapi badannya sedikit bergeser mendekat ke arahku, seperti mencari posisi yang lebih enak untuk dipijat.

Aku lanjut memijat, sekarang pakai kedua tangan. Jari-jariku menelusuri garis bahu, turun sedikit ke punggung atas, lalu balik lagi ke leher. Kulit Mama hangat di balik kain daster yang tipis. Aku bisa merasakan denyut nadi di lehernya, cepat sedikit, tapi nggak kencang seperti orang takut—lebih ke… rileks yang dalam.

Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara napas kami berdua, dan sesekali desahan kecil Mama saat aku menemukan titik yang paling pegal.

“Di…” suaranya pelan banget, hampir hilang. “Terima kasih…”

Aku nggak jawab. Cuma terus memijat, sekarang gerakanku lebih berani sedikit—menekan lebih dalam, tapi tetap lembut. Tangan kiriku sempat menyentuh rambutnya yang tergerai, menyisir pelan ke belakang telinga. Mama nggak menolak. Malah kepalanya miring sedikit, memberi ruang lebih banyak.

Saat itu aku sadar: Ini pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku benar-benar menyentuh Mama lebih dari sekadar senggolan tak sengaja atau ambil piring. Dan Mama… menerimanya. Bahkan lebih dari itu—beliau menikmatinya.

Setelah sekitar sepuluh menit, pundak Mama sudah terasa lebih rileks. Ototnya nggak sekaku tadi. Aku pelan-pelan berhenti, tapi tanganku masih bertahan di bahunya, cuma diam di situ.

Mama membuka mata perlahan. Pandangannya langsung ketemu mataku. Nggak ada ekspresi marah, nggak ada kaget berlebihan. Cuma mata yang lembut, agak berkaca-kaca—mungkin karena nyaman, mungkin karena sesuatu yang lain.

“Sudah enak, Ma?” tanyaku, suara serak sendiri.

Mama mengangguk pelan. Lalu, dengan gerakan yang hampir nggak kelihatan, tangan kanannya naik dan menutupi tanganku yang masih di bahunya. Cuma menutupi, nggak menarik atau mendorong. Hanya menahan di situ, hangat.

“Enak sekali…” bisiknya. “Udah lama nggak ada yang… begini.”

Aku nggak tahu harus jawab apa. Jantungku berdegup kencang, tapi aku nggak mau lepas tangan. Kami diam begitu beberapa detik—tangan di atas tangan, mata saling tatap di bawah lampu ruang tamu yang redup.

Lalu Mama pelan-pelan menarik tangannya, tapi sebelum benar-benar lepas, jari telunjuknya sempat mengusap punggung tanganku sekali. Singkat. Hampir nggak terasa. Tapi cukup buat bikin bulu kudukku berdiri.

“Tidur ya, Di. Besok kerja lagi,” katanya lembut, lalu memejamkan mata lagi.

Aku berdiri pelan, ambil selimut, selimuti badannya seperti biasa. Tapi kali ini, sebelum pergi ke kamar, aku membungkuk sedikit dan mencium keningnya pelan sekali. Seperti anak kecil mencium ibu. Tapi rasanya… beda.

Mama nggak bergerak. Tapi aku tahu beliau belum tidur. Napasnya agak tertahan sebentar.

Aku masuk kamar, matikan lampu, tapi mata nggak bisa merem. Sepanjang malam aku memutar ulang momen itu: pundak yang rileks di bawah tanganku, desahan nyaman, tangan yang menutupi tanganku, usapan kecil di punggung tangan.

Dan aku sadar, ini bukan lagi soal kasihan. Ini sudah masuk ke wilayah yang lebih gelap, lebih dalam, dan Mama… sepertinya juga tahu.

Besok paginya, seperti biasa, Mama bangun duluan. Membuat kopi, menggoreng telur, tersenyum tipis saat aku keluar kamar. Tapi saat aku lewat di belakangnya untuk ambil gelas, pundaknya sengaja agak condong ke arahku—hanya sedetik. Seperti mengundang, tanpa kata-kata.

Aku tersenyum kecil dalam hati. Rahasia malam ini mulai punya bentuk. Dan rasanya, kami berdua sama-sama nggak mau berhenti.

Malam demi malam setelah pijatan itu, suasana rumah semakin berubah. Bukan perubahan besar yang bisa dilihat Vina—dia masih sibuk dengan magangnya, pulang capek, tidur cepat. Tapi antara aku dan Mama, ada semacam bahasa baru yang tak perlu kata-kata. Senyum tipis Mama saat sarapan jadi lebih hangat, tatapannya lebih lama saat aku ambil gelas di belakangnya. Dan setiap malam, beliau masih di sofa, tapi sekarang seperti menunggu aku pulang. Aku tahu, karena setiap kali aku duduk di sampingnya, badannya langsung rileks, seperti mengundang tanganku untuk memijat lagi.

Malam itu, Selasa, 26 Januari. Hujan tipis-tipis, angin dingin menyusup lewat celah jendela. Vina sudah tidur jam 9 malam, katanya besok ada pelatihan baru di salon. Aku pulang jam 11 lewat, lembur lagi karena laporan akhir bulan.

Pas masuk ruang tamu, lampu redup seperti biasa. Mama di sofa, tapi kali ini nggak ketiduran. Beliau duduk tegak, tangan memegang remot TV yang mati, mata menatap ke arah pintu seperti sudah menunggu. Daster putih tipis yang jarang dipakai—yang kainnya lebih halus, hampir transparan di bawah cahaya lampu. Rambutnya tergerai, wajahnya tanpa make-up tapi terlihat lebih segar, seperti habis cuci muka.

“Di… pulang,” sapanya pelan, suara lembut tapi ada nada yang beda. Bukan pertanyaan, lebih ke pernyataan yang penuh harap.

“Iya, Ma. Lembur lagi.” Aku duduk di sampingnya, seperti biasa. Tangan kananku langsung naik ke pundaknya, mulai memijat pelan. “Pegal lagi ya?”

Mama mengangguk, mata terpejam sebentar. Desahannya kecil, tapi malam ini lebih dalam, lebih panjang. Badannya condong ke arahku, bahunya menekan dada kiriku sedikit. Aku bisa mencium wangi sabun mandi yang segar dari kulitnya—bukan wangi cuci baju seperti biasa.

Kami diam beberapa menit. Hanya suara napas, dan gerakan tanganku yang semakin berani—turun ke punggung atas, menyusuri tulang belakang lewat kain daster yang tipis. Mama nggak menolak. Malah, tangan kirinya pelan-pelan naik ke paha kananku, cuma diam di situ, tapi jarinya mengusap kecil-kecil seperti malam sebelumnya.

“Di…” bisiknya tiba-tiba, mata masih terpejam. “Mama… capek tidur di sofa terus.”

Aku berhenti memijat sebentar. Jantungku berdegup kencang. “Mau tidur di kamar aja, Ma? Aku antar.”

Mama membuka mata, tatap langsung ke mataku. Ada sesuatu di sana—kesepian yang sudah berubah jadi keinginan. “Ke kamar Mama… yuk.”

Kata-katanya sederhana, tapi nada suaranya… mengundang. Bukan ajakan biasa. Ini ajakan yang selama ini kami berdua tunggu, tapi tak berani ucapkan.

Aku mengangguk pelan, berdiri, lalu ulurkan tangan. Mama ambil tanganku, berdiri pelan. Kami jalan ke lorong menuju kamar Mama, tangan saling genggam—hangat, lembab karena keringat gugup. Pintu kamar Vina tertutup rapat, suara dengkurnya samar terdengar.

Masuk ke kamar Mama, aku tutup pintu pelan, tanpa suara. Kamarnya sederhana: kasur double yang dulu dipakai bareng Papa, lemari kayu tua, meja kecil dengan foto keluarga lama. Lampu tidur nyala redup, cahaya kuning hangat menerangi ruangan. Bau kamarnya familiar—campur wangi bedak dan sedikit lembab karena hujan.

Mama berdiri di depan kasur, punggung menghadapku. “Di… Mama kesepian banget, sudah lama.” Suaranya gemetar sedikit. “Sejak Papa pergi… nggak ada yang… deketin Mama lagi.”

Aku mendekat dari belakang, tangan memeluk pinggangnya pelan. Badan Mama menegang sebentar, lalu rileks ke pelukanku. “Aku ada di sini, Ma. Aku nggak akan pergi.”

Mama berbalik pelan, wajah kami dekat sekali. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum tipis. “Kamu… baik banget sama Mama.” Lalu, dengan gerakan lambat, tangannya naik ke leherku, menarik wajahku mendekat.

Ciuman pertama itu lembut, ragu-ragu. Bibir Mama hangat, lembut seperti yang aku bayangkan malam-malam sebelumnya. Aku balas pelan, tangan memeluk lebih erat. Ciuman semakin dalam, lidah kami saling menyentuh—pertama kali, tapi seperti sudah lama saling tahu. Mama mendesah kecil di mulutku, tangannya menyusuri punggungku, menarik baju kerjaku ke atas.

Aku lepas ciuman sebentar, tarik bajuku lepas, lalu bantu Mama lepas daster putihnya. Kainnya jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuh Mama yang telanjang—kulit putih, payudara yang masih kencang meski sudah 43 tahun, perut yang sedikit lembut karena usia, tapi semuanya indah di mataku. Mama menunduk malu, tapi aku angkat dagunya, cium lagi. “Mama cantik banget.”

Kami jatuh ke kasur pelan-pelan, badan saling menempel. Tangan Mama menelusuri dada ku, turun ke perut, lalu ke celana. Aku bantu lepas semuanya, sekarang kami berdua telanjang. Aku cium leher Mama, turun ke bahu, lalu ke payudara. Putingnya mengeras saat aku hisap pelan, Mama mendesah lebih keras, tangannya meremas rambutku. “Di… pelan… Mama lama nggak gini.”

Aku turun lebih bawah, cium perutnya, paha dalamnya. Mama menggeliat, kakinya membuka pelan. Aku sentuh bagian paling intimnya dengan jari dulu—lembab, hangat. Mama menggigit bibir bawahnya, mata terpejam. Lalu aku gunakan mulutku, lidah menyusuri, hisap lembut. Mama mengerang, badannya melengkung. “Ah… Di… enak…” Suaranya bergetar, tangannya menarikku naik lagi.

Aku posisikan diri di atasnya, mata saling tatap. “Ma… boleh?”

Mama mengangguk, tangannya memandu penisku ke dalamnya. Pelan-pelan aku masuk—sempit, hangat, basah. Mama mendesah panjang, kakinya melingkar di pinggangku. Kami mulai bergerak pelan, ritme yang sinkron seperti sudah latihan bertahun-tahun. Setiap dorongan, Mama mengerang kecil, tangannya mencakar punggungku ringan. “Lebih cepat, Di… Mama mau…”

Aku percepat, cium bibirnya lagi untuk meredam suara. Badan kami berkeringat, gesekan semakin intens. Mama klimaks pertama, badannya menegang, mengerang tertahan di mulutku. Aku ikut beberapa dorongan lagi, keluar di dalamnya—hangat, memenuhi. Kami diam begitu, napas ngos-ngosan, badan saling peluk.

Setelah itu, Mama memelukku erat, kepala di dada ku. “Terima kasih, Di… Mama bahagia banget malam ini.”

Aku cium keningnya. “Aku juga, Ma. Kita… rahasia ya.”

Mama mengangguk, tersenyum. Kami tidur begitu, telanjang di bawah selimut, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun kamar ini nggak sepi lagi.

Pagi harinya, seperti biasa, Mama bangun duluan. Buat sarapan, tapi saat Vina masih tidur, beliau curi-curi cium pipiku di dapur. Rahasia malam semakin dalam, dan aku tahu ini baru permulaan.

(bersambung…)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)