Tergoda Kemontokan Tubuh Indah Mama

mama
0



Aku, Rama, baru saja berusia 19 tahun. Tinggi badanku sudah hampir 180 cm, tapi entah kenapa aku selalu merasa kecil di hadapan Mama. Mama bernama Livia, 42 tahun, tapi kalau orang melihatnya, tak akan percaya kalau dia sudah punya anak sebesar aku. Kulitnya putih mulus, rambutnya hitam panjang bergelombang, matanya besar berbinar, dan… tubuhnya. Ya Tuhan, tubuh Mama adalah definisi sempurna menurutku.

Dadah-dadahnya besar sekali, montok, kencang, dan selalu terlihat menonjol meski Mama pakai baju longgar sekalipun. Pinggangnya ramping, bokongnya bulat penuh, dan pinggulnya lebar menggoda. Setiap kali Mama berjalan di rumah dengan daster tipis atau kaos oblong yang agak ketat, aku selalu mencuri pandang. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini terlarang. Tapi aku tak bisa berhenti mengaguminya.

Pagi itu hari Sabtu, aku pulang lebih cepat dari tempat les karena guru sakit. Rumah sepi, Papa sedang dinas ke luar kota sampai Senin malam. Aku masuk lewat pintu belakang, melepas sepatu, dan langsung menuju ruang tamu untuk mengambil air minum.

Dan aku membeku.

Mama ada di sana. Di sofa panjang ruang tamu yang menghadap taman. Daster tipis berwarna kremnya tersingkap sampai pinggul. Kedua kakinya terbuka lebar, satu kaki disandarkan di sandaran sofa. Tangan kanannya sibuk menggosok-gosok klitorisnya dengan gerakan melingkar cepat, sementara tangan kirinya meremas-remas payudaranya yang montok itu. Putingnya yang cokelat muda sudah mengeras, menonjol jelas di balik kain tipis.

Mama mendesah pelan, matanya setengah terpejam, kepalanya terdongak ke belakang. Aku bisa melihat jelas bagaimana jari-jarinya masuk-keluar dari lubang vaginanya yang sudah basah mengkilat.

Jantungku berdegup kencang sekali. Kakiku seperti terpaku di tempat. Aku tahu aku harus pergi, tapi tubuhku tak mau bergerak. Aku hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap Mama yang sedang tenggelam dalam kenikmatannya sendiri.

Tiba-tiba mata Mama terbuka. Pandangannya bertemu denganku.

Wajah Mama langsung memerah hebat. Tangannya buru-buru menutup paha, menarik daster ke bawah. Dia duduk tegak, rambutnya acak-acakan.

“R-Rama…? K-kapan kamu pulang?” suaranya gemetar, hampir tak terdengar.

Aku buru-buru memalingkan muka, pura-pura baru sadar. “Eh… baru aja, Ma. Aku… aku mau ambil air di dapur.” Aku bergegas lewat ruang tamu seolah tak melihat apa-apa, meski jantungku mau copot.

Malam harinya, suasana rumah terasa aneh. Kami makan malam berdua dalam diam yang canggung. Mama sesekali melirikku, wajahnya masih merah setiap kali ingat kejadian tadi siang.

Setelah makan, kami duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton TV. Tapi tak ada yang benar-benar memperhatikan layar. Akhirnya Mama memecah keheningan.

“Rama… tadi siang… kamu… lihat Mama ya?” suaranya pelan, hampir berbisik.

Aku menelan ludah. Jantungku kembali berdegup kencang. “Enggak kok, Ma. Aku cuma lewat cepat. Aku… nggak lihat apa-apa,” bohongku.

Mama menunduk, memainkan ujung jarinya. “Mama malu sekali… Mama… lagi kesepian. Papa jarang pulang. Mama… Mama cuma ingin merasa nyaman sebentar.”

Aku diam. Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang membara. Aku tahu ini kesempatan. Aku tahu ini salah. Tapi aku tak bisa menahan diri lagi.

“Ma… kalau Mama butuh… aku bisa bantu,” kataku pelan, suaraku serak.

Mama menoleh, matanya membulat kaget. “Maksudmu…?”




Aku menggeser duduk lebih dekat. Tanganku gemetar saat menyentuh paha Mama yang mulus. “Aku tahu Mama butuh. Biar aku yang puasin Mama… pakai tangan dan… lidahku.”

Mama terdiam lama. Napasnya memburu. Akhirnya dia mengangguk pelan, hampir tak terlihat.

Malam itu, di sofa yang sama, aku berlutut di depan Mama. Aku menyingkap daster tipisnya perlahan. Aku mencium paha dalamnya, menjilat kulitnya yang wangi sabun mandi. Mama mendesah saat lidahku menyentuh bibir vaginanya yang sudah basah. Aku menjilatnya pelan, menelusuri setiap lipatan, lalu memasukkan lidahku ke dalam. Mama mengerang keras, tangannya meraih rambutku, menekanku lebih dalam.

Jari-jariku ikut bermain. Satu jari, lalu dua, keluar-masuk dengan ritme yang semakin cepat. Mama menggeliat, pinggulnya naik-turun mengikuti gerakanku. “Rama… ahhh… Mama… mau keluar…!”

Aku mempercepat gerakan lidahku di klitorisnya sampai akhirnya Mama menjerit kecil, tubuhnya mengejang hebat. Cairannya membasahi mulut dan daguku.

Setelah itu, Mama menarikku naik. Matanya berkaca-kaca, penuh nafsu. “Kamu… kamu sudah besar sekali, Rama…” bisiknya sambil meraba tonjolan keras di celanaku.

Aku tak bisa menahan lagi. Aku mencium bibir Mama dengan ganas. Lidah kami saling bertautan. Mama membantuku membuka celana. Batangku yang sudah keras sekali langsung terbebas.

Mama menatapnya dengan mata penuh kekaguman. “Ya Tuhan… lebih besar dari Papa…”

Tanpa banyak bicara lagi, Mama membimbingku masuk. Aku mendorong perlahan, merasakan kehangatan dan kepadatan yang luar biasa. Mama mengerang keras saat aku masuk sepenuhnya. Kami bergerak bersama, semakin cepat, semakin dalam. Aku menciumi lehernya, meremas payudaranya yang montok, sementara Mama mencakar punggungku.

Malam itu kami melakukannya berkali-kali. Di sofa, di lantai, di dinding ruang tamu. Mama orgasme lagi dan lagi sampai akhirnya aku melepaskan di dalamnya, memenuhinya dengan cairanku yang panas.

Sejak malam itu, semuanya berubah.

Kami tak bisa berhenti. Setiap Papa pergi dinas, rumah menjadi milik kami. Pagi hari di kamar mandi, Mama mengulumku sampai aku selesai di mulutnya. Siang hari di dapur, aku mengangkat Mama ke meja makan, membukanya lebar-lebar, dan menyetubuhinya dengan keras. Malam hari di kamar tidur utama, kami mencoba segala posisi: Mama di atas, menggoyang pinggulnya yang montok itu sambil payudaranya bergoyang-goyang di depan wajahku. Aku dari belakang, menampar bokongnya yang bulat sambil mendorong dalam-dalam. Mama berlutut di lantai, aku berdiri di depannya, memasukkan batangku ke mulutnya yang hangat. Di balkon rumah saat malam hujan, Mama bersandar di pagar, aku menyetubuhinya dari belakang sambil angin malam menerpa tubuh telanjang kami.

Setiap kali selesai, Mama selalu memelukku erat, berbisik di telingaku: “Mama nggak bisa hidup tanpa kamu lagi, Rama…”

Dan aku tahu, aku juga sudah tak bisa lepas dari tubuh indah Mama yang montok dan menggoda itu.



Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)